memulai hari dengan senyum
dan semangat....
semangat dan semangat

Jumat, 27 November 2009

Liburan di Bali (Alas kedaton......)


Kali ini mau lihat aksi para mongkey yang luchu-luchu, yang jelas bukan mau memiripkan wajah......


Liburan di Bali ( Tanah Lot...)




Baru di jemput temen dari terminal Ubeng denpasar, kita langsung di ajak jalan ke Tanah Lot, asyikkkk...dunk. Lanjut deh langsung ke lokasi yang dituju. Baju yang dipake juga langsung beli di bali, murah meriah..


Liburan di Bali (Pantai Kuta..)





Liburan di Bali (GWK........)


Motor melaju dengan cepat ke GWK...tadinya belum faham lokasi apa itu.. Terletak di kawanan pebukitan dgn pemandangan yg menawan seperti Pantai Kuta & Jimbaran di kejauhan, Airport Ngurah Rai dan Pelabuhan benoa. Kamu bisa mencapai GWK melalui beberapa jalur. Diantaranya melewati kampus Universitas Udayana yg yang letaknya jelimet benget tapi dapet bonus liat mahasiswa yang berseliweran, atau langsung melalui jalan utama Jimbaran dgn beberapa tikungan yang tajam dan berbahaya.

Saya ngutip dari beberapa situs wisata bali, Patung ini berlokasi di Bukit Ungasan - Jimbaran Bali. Karya masterpiece Bali I Nyoman Nuarta. Saat ini dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi Landmark bagi pariwisata Bali dan Indonesia. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pelindung, mengendarai burung Garuda. Diambil dari cerita “Garuda & Kerajaannya” dimana rasa bhakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.

Patung ini dibangun dengan ketinggian 140 meter, diproyeksikan untuk mengikat tat ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Terletak diatas dataraan tinggi batu kapur padas dan menatap kawasan wisata dipesisir selatan Bali, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park adalah jendela seni dan budaya Pulau Dewata yang memiliki latar belakang alami serta panorama yang sangat mengagumkan.

Dengan jarak tempuh 15 menit dari Pelabuhan Udara dan kurang dari satu jam dari lokasi perhotelan utama, GWK menjadi salah satu tujuan utama untuk berbagai pertunjukan kesenian, pameran dan konferensi ataupun kunjungan santai bahkan kunjungan spiritual Kawasan seluas 250 hektar ini merangkum berbagai kegiatan seni budaya, tempat pertunjukan serta berbagai layanan tata boga. Sebagaimana istana-istana Bali pada jaman dahulu, pengunjung GW K akan menyaksikan kemegahan monumental dan kekhusukan spiritual yang mana kesemuanya disempurnakan dengan sentuhan modern dengan fasilitas dan pelayanan yang tepat guna. Kendatipun anda datang sebagai bagian dari ribuan pengunjung sebuah event kebudayaan ataupun seorang diri untuk menikmati sekedar hidangan ringan dan minuman sembari menyaksikan matahari terbenam, anda akan merasakan keindahan alam dan budaya Bali serta keramah-tamahan penduduknya.
Wisnu - Simbol Hindu yang melambangkan kekuatan utama pemelihara alam semesta yang mendominasi kawasan ini. Diwujudkan sebagai patung berukuran raksasa terbuat dari kuningan dan tembaga dengan ketinggian mencapai 22 meter, menjadikan figur ini sebagai perwujudan modern sebuah kebudayaan dan tradisi kuno. Wujud yang menyertainya adalah Garuda - seekor burung besar yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu sebagai perlambang kebebasan sekaligus pengabdian tanpa pamrih.

Gapura Batu - beberapa buah pilar batu cadas alami setinggi 25 meter yang berdiri kokoh yang akan ditatah dengan berbagai ornamen yang diambil dari kisah dramatis Ramayana yang menjadi sumber inspirasi seni pertunjukan Bali. Pahatan ukiran latar belakang relief bercorak seni pahat pewayangan (Kayon atau Gunungan) yang sangat khas Bali dan Jawa

Berdekatan dengan patung Dewa Wisnu terdapat Parahyangan Somaka Giri, sebuah mata air keramat darimana mengalir air yang dengan kandungan mineral-mineral utama. Keberadaan air di puncak bukit kapur padas ini memang merupakan sebuah keajaiban dan belum dapat dijelaskan dengan ilmiah, sehingga menjadikannya tempat kunjungan spiritual dan meditasi.

Air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan telah dipergunakan luas dikalangan penduduk setempat dalam upacara memohon hujan guna mendapatkan panen yang baik. Keberadaan Parahyangan Somaka Giri sangat menggugah naluri seseorang dalam mencari pencerahan pikiran, lahir dan batin

Dengan curah hujan yang relatif rendah namun terbuka untuk dapat menikmati hembusan angin tropis, Fasilitas yang dimiliki GWK menjadi sangat ideal. Amphitheatre dengan kapasitas 800 tempat duduk dan tatanan acoustic kelas satu, merupakan tempat yang tak tertandingi untuk pagelaran seni budaya. Lotus Pond yang dikelilingi pilar-pilar batu cadas serta latar belakang patung kepala Burung Garuda menjadikan areal berkapasitas 7500 orang ini sangat dramatis untuk berbagai perhelatan akbar. Sebagaimana arena upacara desa-desa di Bali, Street Theatre merupakan tempat yang sangat tepat untuk berbagai prosesi, fashion show dan berbagai pertunjukan bergerak. Tempat untuk beramah-tamah yang ideal adalah Plaza Kura-kura, yang memiliki kapasitas sampai 200 orang. Sebagai tambahan, yang terbuka untuk umum, Exhibition Gallery yang memiliki luas 200m2 terdapat 10m2 halaman terbuka di dalamnya.


Sejumlah cafe dan restaurant menyediakan layanan tata boga yang lengkap, dari makanan kecil, hidangan ringan hingga banquets. Layanan On-site catering yang tersedia mampu melayani hingga 2000 porsi, dengan berbagai hidangan indonesia, Oriental atau hidangan International yang dapat disesuaikan dengan tema dan lokasi tertentu.


Rabu, 25 November 2009

Liburan di Bali (Uluwatu...tinggal kacamata...)


Jalan-jalan ke Bali sebenarnya sama sekali tidak direncanakan, sampai sekarang masih nggak percaya kami sudah menjejakkan kaki di pulau dewata. Berawal dari ajakan seorang teman kuliah pasca untuk datang ke home landnya Bali. Tadinya saya berpikir nanti saja setelah tamat kuliah. Tapi kesempatan waktu dan duit tidak datang dua kali ya...jadi pas ketemu waktu yang cocok kami langsung berangkat ke jogja lanjut langsung ke Bali

Malah kami tidak memberitahukan kedatangan kami...mau buat kejutan rencananya. Malah kita yang terkejut, karena teman sedang tidak di denpasar, tapi sedang pulang kampung. Nyampe jam 11 malam di Denpasar kami langsung cari hotel murah pas di belakang terminal, harganya 40rb/permalam. Cukuplah, karena paginya kita sudah langsung berangkat lagi..

Untungnya punya temen di Bali jadi, tempat mondok amanlah...malah dapet pinjaman motor buat keliling. Tapi disini juga disediain tempat sewa motor, harganya murah kok...hanya 50rb/24jam. Di Bali cari angkutan umum susah banget. Makanya kami keliling2 pakai motor, mana cuacanya panas banget, nggak bawa tabir surya..hasilnya badan kita menghitam 40% ditambah lagi mandi di laut..

Naik motor dengan bermodalkan peta, kita akhirnya menemukan pura uluwatu, kayaknya dulu si dewi sandra n glen pernah merid disini (sssttt meski sekarang udah cerai..). menurut info temen saya, tempat ini eksotik banget. Perjalanannya agak jauh, lokasi pura ini dari Bandara Ngurah Rai kurang lebih 30 km ditempuh sekitar 45 menit atau 1 jam dari Denpasar, Kuta atau Nusa Dua dengan kendaraan bermotor, untungnya kita berangkat dari Nusa dua.

Sebelum masuk ke Pura, ritualnya kita harus memakai sarung ala bali, sebagai penghormatan masuk ke tempat suci. Bayarnya murah kok, Cuma 3 ribu rupiah, kalau mau beri makan para mongkeys yang banyak nangkring di segala tempat..bisa beli makanannya di depan. Jangan lupa untuk melepas segala aksesoris agar tidak menarik perhatian para mongkeys, mereka ahli dalam mengambil segala sesuatu, misal HP, Kacamata, bahkan anting dan kalung. Tapi para pawang kenal siapa yang suka ngambil barang, dan bisa dikembalikan.

Sewaktu kita berkunjung ke pura, ada wisatawan dari jepang kehilangan HP yang dipegangnya, tapi pawang bertindak cepat...akhirnya barangnya kembali. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan, sekaligus mengharukan. Dengan sedikit kompromi with japanese language, si pawang kebagian tips 100rb..lumayanlah. Ternyata monyet seperti manusia juga, ada yang berhati lembut, ada yang cuek, ada yang suka maling kaya tadi. Karena asyik memperhatikan sekalian mentertawakan kejadian tadi (dalam hati sih, sudah dianjurkan dari awal barang-barang diamankan, masih dipegang juga Hpnya sama si nipon.....). Eitsss, secepat kilat..giliran kaca mata my hubby yang mulai diamankan si monyet yang lari tunggang langgang ke atas pohon. Sekarang gantian para jepang heboh, dan para pawang mencoba mengembalikan kacamata my hubby. Langsung deh, saya bilang nggak usah dibalikin, buat kenang2an para mongkey, untungnya kacamata itu baru kita beli diluar, harganya cuma 10rb, mending di sumbangin aja kan. Hikmahnya, kalau di tempat yang dianggap suci pikiran pun harus suci.....

Di ujung paling barat semenanjung Bukit, terdapat sebuah Pura Sad Kahyangan sebagai penyangga salah satu darl 9 arah mata angin yakni Pura Luhur Uluwatu. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura di Bali dengan lokasinya yang sangat indah. Daya tarik utama bagi para wisatawan dari pura ini adalah panoramanya yang spektakuler. Terletak di bagian barat laut, pura ini seperti bertengger di ujung tebing batu yang sangat tinggi dan curam, dengan pemandangan lautnya dibawah berwarna biru bersih dan hantaman ombak yang menghasilkan buih-buih putih yang sangat cantik.
Pura ini terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Kalau dilihat dalam peta Pulau Bali, bisa kita temukan di kaki Pulau Bali. Pura ini dibangun, bertengger persis di atas batu karang yang menjorok ke laut dengan pemandangan yang luar biasa indahnya, terlebih-lebih tatkala Surya mulai redup menurun di ufuk barat.

Pura Uluwatu pertama-tama dipakai sebagai tempat pemujaan Dewa Rudra untuk memohon keselamatan alam yang dilakukan oleh Empu Kuturan pada abad ke 13 berdasarkan Prasasti Blanjong. Empu Kuturan-lah yang menurunkan ajaran ilmu sosiologi (adat istiadat) kepada masyarakat Bali dengan segala peraturan tata tertibnya.
Menurut sejarah, seorang pendeta Hindu yang berasal dari Jawa bernama Empu Kuturan adalah orang yang pertama kali membangun pura di tempat ini. Kemudian diteruskan oleh sejawatnya yang kemudian juga membangun pura Tanah Lot yang juga terkenal dengan pemandangan matahari terbenam (sunset) yang sangat indah.
Pura tersebut berikutnya juga dipakai oleh pendeta suci yang bernama Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 untuk melepaskan ikatan keduniawian atau mengakhiri perjalanan sucinya dengan Moksa / Ngeluhur di tempat ini. Selanjutnya dengan kata itu dipakai melengkapi nama Pura yakni Pura Luhur Uluwatu.

Untuk bisa masuk kedalam pura ini pengunjung harus mengenakan sarung dan selempang yang bisa disewa ditempat itu. Waktu terbaik untuk mengunjungi pura Uluwatu adalah sore hari pada saat matahari terbenam sehingga bisa menyaksikan pemandangan spektakulernya.

Puas banget dengan pemandangannya....makin siang semakin banyak pengunjungnya, kita mutusin buat lanjut lagi perjalanan dengan motor....

Selasa, 24 November 2009

Liburan di Jakarta (Tugu monas...ada emasnya nggak??)


Kalau ke Jakarta sepertinya nggak sah kalau kita tidak mampir ke Tugu Monas ya...Aksesnya mudah kok, Kalau mau naik kereta dari Gambir, udah kelihatan tugunya......tinggal jalan aja dikit. Atau naik busway juga bisa, turunnya di Gambir langsung ketemu lokasinya....Kami tidak spesial banget buat dateng ke Tugu Monas, karena kereta yang mau berangkat ke bandung 2 jam lagi, akhirnya kita nongkrong di pelataran Monas...suasananya sejuk, karena banyak pepohonan..

Disetiap akhir pekan, Sabtu atau Minggu banyak para seniman yang berkumpul di gedung Kesenian Jakarta, bahkan diantara mereka ada yang berekspresi dan memamerkan hasil kreasinya. Selain karena tempatnya mudah dijangkau, banyak warga lebih mengenal tempat ini sebagai gudangnya seniman.

Gedung Kesenian Jakarta terletak di Jalan Gedung Kesenian No. 1 Jakarta Pusat. Ide munculnya gedung ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814.

Pada masa pendudukan tentara Dai Nipon, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara. Sedangkan pada masa kemerdekaan difungsikan sebagai ruang kuliah untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia, dan gedung bioskop. Pada awalnya gedung ini bernama Municipal Theatre, Schouwburg, atau dengan lebih populer disebut "Gedung Komidi". Di jaman Jepang disebut dengan Kiritsu Gekitzyoo, lalu berubah menjadi bioskop Dana, dan City Theatre. Kemudian pada tahun 1984 bangunan ini dipugar dan dikembalikan kepada fungsi semula sebagai pentas kesenian, dan ditetapkan namanya menjadi "Gedung Kesenian Jakarta"

Tugu Peringatan Nasional yang satu ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Monumen Nasional yang berada dipusat kota Jakarta yaitu di Lapangan Monas Jakarta Pusat dibangun pada tahun 1960.

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmar yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 137 meter.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaanTugu Peringatan Nasional ini lebih dikenal dengan sebutan Tugu Monas yang dibangun diareal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan F. Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Di dekat tugu, masih dalam areal Monas, terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan Konsulat Jenderal Honores, Dr Mario, di Indonesia. Kolam ini menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk menikmati air mancur dan suasana sejuk airnya.Monas mengalami lima kali pergantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Disekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga.

Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung kesini.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga keatas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta yang semakin padat dan semrawut dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, Senin - Sabtu mulai pukul 9.00 - 16.00 WIB.

Ada bus lokal yang berseliweran di sekitar monas, gratis buat putar-putar di sekitar monas....


Liburan di Jakarta (at Kota Tua...)


Lagi di ibu kota negara nih, panasss bener....rencana hari ini ke musium Fatahillah alias kota tua jakarta. Bila naik busway Blok M-Kota, turunnya di Halte Stasiun Kota. Ketika keluar
dari haltenya, kita ambil jalan ke arah utara (kiri), jalan kaki agak jauh sih tapi biar badan sehat, jalan aja teruuus aja, ntar ketemu deh lapangan besar, yah itu namanya adalah Taman Fatahillah, nah di sini ada gedung gede yang menghadap ke lapangan itu, itulah yang disebut Museum Sejarah Jakarta.

Bila naik KRL, turunlah di Stasiun Kota (Beos). Keluar dari stasiun, ambil jalan ke arah utara (kanan), jalan kaki agak jauh sih tapi sehat sih hehehe, pokoknya jalan aja teruuus aja, ntar ketemu deh lapangan besar, yah itu namanya adalah Taman Fatahillah, nah di sini ada gedung gede yang menghadap ke lapangan itu, itulah yang disebut Museum Sejarah Jakarta

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp2.000,- ( dewasa ) kita akan dibawa dalam suasana Jakarta Tempoe Doloe dengan pintu-pintu dan jendela berbadan lebar.
Wah, lagi ada syuting film hantu kereta manggarai nih, tapi kok nggak ada artisnya ya...Kita jalan putar2 trus tetep foto2...seru lah..

Kata wikipedia nih, Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.
Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.
Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya Barok klasik[rujukan?] dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.

Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.

Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

Kita juga bisa menyewa sepeda buat keliling-keliling kota tua, harganya murah kok...